Cara Menghitung HPP: Panduan UMKM biar Harga Jual Tak Asal Tebak

Dulu saya kira jualan itu simpel: beli seharga sepuluh ribu, jual lima belas ribu, untung lima ribu. Ternyata tidak sesederhana itu. Warung kopi tetangga saya tutup dalam setahun bukan karena sepi pembeli, tapi karena dia tidak pernah tahu berapa modal asli tiap gelas yang dia buat. Karena itu, memahami cara menghitung HPP jadi salah satu keterampilan paling menentukan buat pemilik usaha kecil. HPP alias harga pokok penjualan adalah total biaya yang benar-benar keluar untuk membuat satu produk sampai siap dijual.

Faktanya, banyak pelaku UMKM menentukan harga jual cuma dari perasaan atau ikut harga tetangga. Sebaliknya, kalau angka dasarnya salah, seluruh perhitungan untung ikut meleset. Selanjutnya kita bahas pelan-pelan, mulai dari komponennya sampai rumus yang bisa langsung kamu pakai malam ini.

Apa saja komponen dalam cara menghitung HPP

Pertama, kenali dulu isi dari biaya yang membentuk sebuah produk. Menurut penjelasan akuntansi di Wikipedia, HPP mencakup biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead. Ketiganya sering luput dari catatan pemilik warung karena terasa remeh saat dikeluarkan satu per satu.

Sebagai contoh, kamu jualan risoles. Bahan bakunya jelas: tepung, telur, sayur, minyak. Namun tenaga kerja langsung juga masuk hitungan, entah itu upah pegawai atau nilai waktu kamu sendiri kalau memasak seorang diri. Selain itu ada overhead seperti gas, listrik, dan kemasan. Karena itu, satu risoles yang kamu kira modalnya seribu bisa jadi aslinya seribu lima ratus setelah semua ditotal.

Oleh karena itu, mulailah mencatat setiap pengeluaran kecil selama seminggu penuh. Awalnya memang ribet dan bikin malas. Namun catatan mentah itulah bahan bakar untuk menghitung angka yang jujur, bukan angka karangan.

Rumus praktis dan cara menghitung HPP per produk

Selanjutnya kita masuk ke rumusnya. Untuk usaha dagang, rumus dasarnya adalah persediaan awal ditambah pembelian bersih dikurangi persediaan akhir. Namun bagi pembuat produk seperti kuliner rumahan, cara yang lebih gampang adalah menjumlahkan seluruh biaya produksi dalam satu batch lalu membaginya dengan jumlah produk yang jadi.

Misalnya, sekali masak kamu habis Rp150.000 untuk bahan, Rp30.000 untuk gas dan listrik, serta Rp20.000 untuk kemasan. Totalnya Rp200.000 dan menghasilkan 40 porsi. Karena itu, HPP per porsi adalah Rp200.000 dibagi 40, yaitu Rp5.000. Singkatnya, angka lima ribu itulah batas bawah yang tidak boleh kamu langgar saat menetapkan harga jual.

Harga jual yang sehat lahir dari angka yang jujur, bukan dari menebak-nebak sambil berharap tetap untung di akhir bulan.

Sebaliknya, kalau kamu jual di bawah HPP, tiap penjualan justru menggerus uangmu sendiri. Selanjutnya tambahkan margin di atas HPP sesuai target keuntungan, misalnya 30 sampai 50 persen. Dengan demikian harga jual risoles tadi bisa dipatok Rp7.000 sampai Rp7.500 tanpa rasa bersalah.

Kesimpulan

Singkatnya, cara menghitung HPP bukan urusan akuntan berdasi, melainkan kebiasaan dasar yang menyelamatkan usaha kecil dari bangkrut diam-diam. Pertama, catat semua biaya. Selanjutnya jumlahkan dan bagi per produk. Terakhir, tempelkan margin yang wajar di atasnya.

Oleh karena itu, luangkan waktu sebentar pekan ini untuk menghitung ulang produk andalanmu. Faktanya, banyak pemilik usaha kaget begitu tahu produk terlarisnya ternyata paling tipis untungnya. Untuk gambaran praktis lewat contoh nyata, video berikut membedah perhitungannya langkah demi langkah.

Kamu juga bisa membaca artikel kami soal manajemen arus kas UMKM supaya uang yang sudah untung tidak bocor di tempat lain. Karena pada akhirnya, usaha yang bertahan adalah usaha yang paham angkanya sendiri.

Similar Posts